Cerpen "Rinai di Matamu" “Apa yang kamu suka dari dia?” Tanya Dewi membuyarkan lamunanku.
“Entahlah, banyak…” jawabku asal, berusaha tak menatap matanya yang menyelidik.
“Benar itu cinta atau…. Kagum?”
Mendengar pertanyaan itu membuatku gelisah, ada rasa bimbang dihatiku, “Apakah aku benar masih mencintainya, sekuat itukah rasa cinta itu didalam hatiku sampai rela berkorban untuknya dan memilih mengalah untuk sikapnya? Sikap yang membuatku nyaris tak bisa berpegang pada realita dan tak bisa membedakan antara harap dan mimpi belaka. Jika benar, sungguh aku terlihat menyedihkan, tetap tulus mencintai dengan rasa bimbang yang tak berkesudahan, dan mungkin akan berakhir dengan kebekuan.
Setengah tersenyum Dewi melanjutkan kata-katanya, “Ku rasa kau tidak lagi mencintainya seperti dulu.”
Aku kembali tersenyum mendengar pernyataan Dewi.
“Berhentilah hidup dalam harapan-harapan semu, belajarlah untuk membuka hati. Kau terlalu lama membiarkan kebekuan itu menguasai hatimu dengan angan-angan semu.”
“Kebekuan ini telah ada sejak dulu, hanya saja sempat mencair dengan hadirnya, dan kali ini kembali ke wujud aslinya.” Kataku jujur.
“Rinai, cobalah untuk memberikan kesempatan pada orang lain untuk kembali menempati ruang itu, dan mencairkan kebekuan disana untuk selamanya.
Dia tulus, Nai. Aku bisa melihatnya. Beri dia kesempatan.” Pinta Dewi setengah memohon kepadaku.
Mataku menerawang jauh menelanjangi langit biru yang terbentang disana.
“Haruskah? Tak semudah itu. Aku masih ingin menikmati kekosongan hati ini sampai aku lelah menanti.”
Ku dengar Dewi menghela nafas perlahan, “jangan biarkan hatimu tatap kosong sementara ada yang begitu tulus ingin mengisinya. Orang yang kamu tunggu juga belum tentu masih mengingatmu dan mengerti perasaanmu. Jangan lakukan hal yang sama ke Ade.”
Entah kenapa hatiku panas mendengar perkataan sahabatku.
“Wi, kamu nggak tahu gimana rasanya di posisi aku. Dua tahun aku dihantui bayang-bayang Fathur. Kamu kira aku suka dengan keadaan ini, terus berharap dengan sesuatu yang nggak pasti? Tapi sikap dan cara dia perhatiin aku, itu cukup melambungkan harap ini.
Jangan pernah kamu berfikir aku tidak mencoba, aku terus mencoba melupakannya dengan menyibukkan diri. Bahkan aku berusaha untuk membuka hati. Tapi nggak bisa, Wi. Tanpa aku minta dia hadir dengan sendirinya. Belum ada yang bisa buat aku nyaman. aku terus berusaha…!”
Kali ini Dewi terdiam, seolah berusaha memikirkan kata-kata yang tepat agar tidak menyinggung perasaanku, “Tapi Nai, Ade berada di posisi kamu sekarang.”
“Wi, Ade jelas tahu kalau aku menolak kehadirannya, dan itu tidak sama dengan posisi aku dulu.” Belaku dan segera berlalu meninggalkan Dewi dikantin.
Malam itu aku kembali merenungi kata-kata yang diucapkan Dewi kepadaku, jujur aku tak tega membiarkan Ade terus berharap.
Tak mudah bagiku untuk melupakan sosok Fathur, laki-laki yang ku kenal setelah dia sering main ke rumah tetanggaku, yang kebetulan adalah teman sepermainanku, aku bertemu dengannya di sana, semula aku tak tertarik padanya, tapi lama-kelamaan aku menyukai cara pandangannya, tutur katanya yang mampu membuat tersenyum simpul bahkan tertawa lepas. Caranya memperhatikanku (setelah aku tahu dari temanku bahwa Fathur sering ketangkap basah sedang mencuri-curi pandang kearahku).
Semuanya biasa-biasa saja sampai aku tahu dia sudah ada yang punya, dan semakin menarik simpatik ku saat aku tahu cintanya di khianati gadis itu. Tapi entah kenapa, aku malah perduli padanya, dan ingin menghiburnya, membuatnya kembali tertawa dan ceria. Meski dia berusaha menutupi kesedihannya, aku tahu awan mendung itu belum seutuhnya pergi dari hatinya. Sejak itu, banyak waktu senggang yang kami habiskan untuk sekedar mengobrol atau berdiam diri tanpa mngeluarkan sepatah kata pun.
Kedekatan itu semakin membuatku berani untuk berharap lebih padanya, tetapi selalu keragu-raguan yang kudapat setiap kali melihat ulahnya. Dia seolah sengaja membuatku cemburu saat suatu kali datang kerumah temanku dengan membawa seorang gadis, dan tertawa saat ku goda bahwa gadis itu pacarnya. Meski ia menjawab bukan, tapi akhirnya ku tahu bahwa Fathur menyukai gadis itu, dan itu pengkuan yang dibuatnya sendiri tanpa sadar bahwa ia sedang berbicara padaku.
Tetapi dia harus merelakan gadis itu pergi dari hadapannya tanpa sempat mengutarakan isi hatinya, dan lagi-lagi aku berusaha membangkitkan semangatnya. Tapi aku tahu, hatinya masih menyimpan nama gadis itu.
Aku berusaha berhenti berharap, tetapi selalu saja ia melakukan hal yang membuat harap itu kembali. Bahkan sampai saat ini, ketika aku tak lagi melihatnya main kerumah temanku. Satu kalimat yang masih ku ingat saat terakhir kali bertemu dengannya.
Saat aku dan Fathur tengah mengobrol setelah lama seminggu aku tidak bertemu dengannya karena sakit, tiba-tiba temannya datang dan berkata “kemanapun kau pergi, akhirnya kembali padanya.” Dan Fathur menanggapi, “Benar, aku menyesal karena mencintainya dan meninggalkanmu. Dan ibarat burung merpati yang hanya diberi makan biji kacang hijau, sejauh apapun dia pergi, pasti kembali ke tempat semula.” Aku bingung mendengar percakapan mereka, dan Fathur hanya tersenyum melihat aku kebingungan. Itulah pertemuan terakhir yang kuingat, sampai perhatianku terusik dengan hadirnya Ade yang begitu gigih ingin mendapatkan hatiku. Entah apa alasannya, meski aku sudah meyakinkannya untuk menghentikan ulahnya, tetapi tetap dia bergeming.
♥
Siang yang terik, memaksa ku mengerutkan kening dan menyipitkan mata karena tidak tahan menatap pantulan cahaya matahari yang kelewat benderang.
Pikiranku terfokus pada satu hal, pulang!
Tanpa ku sadari sebuah motor melintas tepat didepan ku di susul bunyi klakson panjang.
Jantungku nyaris copot, dan istigfar keluar dari mulutku. Aku mendelik menatap si pengendara motor yang sekarang tengah memarkir motornya di sisi jalan.
“Benar-benar keterlaluan, jelas-jelas aku sudah berjalan di tempat yang benar, dia seenaknya saja menyerempet!” rutuk ku sebal.
Tiinnn….
Lagi-lagi terdengar klakson panjang dari belakangku, aku tak menoleh, karena aku tahu itu ulah pengendara motor dan mobil yang berebut ingin keluar dari kemacetan gerbang kampus yang memuntahkan semua mahasiswa dari berbagai fakultas.
Tiiinnnnn….!
Kali ini suara itu semakin nyaring dan panjang diikuti omelan beberapa orang yang merasa terganggu dengan suara itu.
Tiiinnn… tiiinnnn….
Karena kesal aku iseng menoleh, dan betapa kagetnya saat kudapati wajah Ade disana,tersenyum menatapku tanpa merasa bersalah karena sudah menimbulkan polusi suara.
Seperti melihat hantu di siang bolong, aku berharap ini hanya mimpi.
Tetapi sepertinya tidak, karena sekarang perlahan si empunya motor bergerak menghampiriku.
Dengan segera aku berbalik dan mempercepat langkah, tak lupa aku berdoa semoga bisa menghilang dari sini sekarang juga.
“Kenapa harus dia?” tanyaku tak percaya.
“Assalammualaikum… sombong amat di panggil-panggil nggak noleh.” Sapa Ade saat berhasil menjajari langkahku.
“Walaikum salam... Sorry, De. aku banyak urusan.” Jawabku tanpa melihatnya.
“Buru-buru ya? Ikut aku aja, biar cepet sampe.” Tawar Ade membuat ku semakin berharap cepat menemukan angkot.
“Nggak usah, makasih.” Jawabku singkat.
“Nai…”
Panggilannya tak ku gubris, aku tetap mempercepat langkah dan sesekali celingukan mencari angkot.
“Nai, please….” Pinta Ade dengan suara lembut.
Sebenarnya aku tak tega mengacuhkannya, tetapi aku tak ingin dia berharap lebih dariku jika aku terus menerima kebaikannya, karena aku tahu dia punya maksud tersendiri melakukan itu.
Entah bagaimana, tiba-tiba Ade sudah menghentikan motornya tepat didepanku dan membuatku terpaksa mengerem langkah.
Mataku mendelik melihat ulahnya, tapi cepat-cepat ku alihkan pandanganku saat bertemu dengan matanya, jantungku berdegup kencang setiap melihat mata itu.
“Nai, kenapa kamu selalu menghindar tiap ketemu aku, apa salah ku?” pertanyaan yang mampu membuatku gelisah dan merasa bersalah.
“Apa aku salah kalau aku cinta sama kamu, apa aku salah kalau aku…”
“Cukup, De! aku mau pulang, dan kamu nggak salah apa-apa.” Potongku cepat dan segera pergi meninggalkannya.
Tak ada tanda-tanda Ade akan menyusulku, ku hela nafas berat.
♥
Sepenggal kisahku dengan Fathur
“Suara dengarkanlah aku, apa kabarnya pujaan hatiku
Aku disini menunggunya
Masih berharap di dalam dirinya.”
Aku hanya tersenyum mendengar Fathur bernyanyi di iringi petikan gitar.
“Hai, Rinai…” sapanya masih tetap memainkan gitar.
Ku balas dengan senyuman sapa itu.
“Berhentilah bernyanyi untuknya, dan lihat bahwa aku disini mengkhawatirkan mu.” Batinku berbisik.
“Nai….” Panggil Fathur sembari meletakkan gitarnya.
“Ya?” jawabku singkat.
“Ciri-ciri cowok yang kamu suka seperti apa?”
Aku terdiam sesaat mendengar pertanyaan itu., “memang kenapa?” jawabku kembali bertanya.
“Ingin tahu aja, boleh kan?”
“Hmmmm…. Asal dia bisa buat aku nyaman dan merindukannya saat dia tak disisi ku.”
“Hanya itu?”
“Ya, memangnya kenapa?”
“Bagaimana dengan fisik dan materinya?”
“Penuhi dulu syarat itu, yang lain akan ku pertimbangkan nanti.”
Fathur tersenyum mendengar jawabanku
“Satu lagi, beriman.” Selaku cepat.
Lagi-lagi Fathur tersenyum, kali ini di ikuti anggukan kepala, “Thank’s atas jawabannya.” Katanya sambil berlalu dengan membawa serta gitarnya.
♥
Sore itu awan terlihat mendung, dengan angin yang mampu membuat kerudungku melambai. Fathur datang menghampiriku dan duduk tepat di depanku.
“Sendirian?” tanyanya.
Aku mengangguk, ku lihat Fathur berusaha merogoh sesuatu dari saku jeansnya dan menyerahkan isinya kepadaku.
“Mau?” tawarnya sambil menyodorkan beberapa permen di hadapanku.
“Nggak usah, makasih. Kenapa belum pulang? Sebentar lagi hujan.” tanyaku balik.
Fathur beranjak dari tempat duduknya dan menatap langit yang terlihat mendung lalu kembali duduk di hadapanku. “Nanti, lagi nunggu temen.” Jawabnya.
Fathur pun memulai percakapan dan kamu pun terlibat dalam diskusi menyenangkan.
Aku suka saat-saat seperti ini, saat aku bisa mengobrol dengannya dan mendengar argument serta opininya tentang apapun, meski tidak menggunakan istilah, tetapi susunan kata yang dia gunakan membuatku betah berlama-lama mendengar ceritanya.
Cukup lama kami mengobrol, sampai temannya datang dan mengajaknya pulang.
Fathur pun berpamitan padaku.
“Hati-hati di jalan.” Pesanku.
“Kau memang mengerti aku. Kau kekasihku, tapi bukan pacarku.”
“Maksudnya?” tanyaku bingung.
“Kau tidak akan mengerti.” Jawabnya dan segera berlalu dari hadapanku dengan meninggalkan tanda Tanya besar di hatiku.
Sampai saat ini aku masih ingat dengan perkataanmu, dan kau tahu Fathur, sekarang aku tahu maksudmu.
Tapi kalaupun aku tahi artinya, apa untungnya bagiku? Itu tak membuatmu bersuara, kau tetap bungkam sampai semuanya benar-benar tinggal kenangan.
Aku pun tidak tahu, apakah yang kurasakan saat ini adalah cinta buta?
Aku bukan orang yang mudah jatuh cinta, tetapi sekali aku menglaminya, sulit bagiku untuk melupakannya.
Kau adalah laki-laki pertama yang mampu membuatku selalu merindukan kehadiranmu, membuat ku tertawa, marah, menangis dan cemburu!
Aku masih ingat bagaimana sakitnya saat ku lihat kau berboncengan dengan perempuan lain, meskipun kau mengaku bahwa dia hanya temanmu.
Bagaimana terlukanya aku saat melihat kau bersedih atas kepergiannya, meski kau tak bersuara, tapi aku tahu kau masih mengharapkannya, dan aku selalu berusaha untuk menghiburmu, aku tak ingin kau terluka.
Tak pernah aku menangis karena seorang lelaki, dan baru kau yang melakukannya.
Dari mu aku belajar mencintai dengan tulus tanpa mengharap pamrih, darimu aku belajar setia, belajar bersabar dengan ulahmu yang menarik ulur hatiku.
Sampai saat ini aku masih merindukanmu, tak jarang air mata ini mengalir jika mengingatmu, aku berharap bisa bertemu kembali denganmu, meski sebentar, aku ingin memastikan kau baik-baik saja dan bahagia, meski bukan karena aku.
Aku merindukanmu, Fathur…..
♥
“Aku duluan ya, Nai…” ucap Dewi saat pacarnya datang menjemput.
Aku pun mengaguk dan melambaikan tangan padanya. Ku tatap langit yang terlihat mendung siang itu.
Seulas senyum mengembang dari sudut bibirku, “Aku suka hujan….” Bisikku pada angin.
Masih ku ingat bagaimana takutnya aku dulu setiap kali hujan akan turun, dengan secepat kilat aku akan pergi tidur agar tidak mendengar datangnya hujan.
Tapi sejak bertemu dengannya, rasa takut itu berubah menjadi suka bahkan rindu. Aku selalu senang setiap hujan datang, bahkan akan ku rindukan jika lama tak hujan.
Semuanya berawal saat aku bertemu berkenalan dengannya, hujan yang membuatku bisa berkenalan dengannya dan mengenalnya lebih dalam. Dua rasa sekaligus dari perkenalan singkat itu, senang dan sedih.
Senang, karena bisa mengenalnya lebih dalam. Sedih, karena ku tahu dia sudah punya pacar yang begitu dicintainya, bahkan dia rela menembus hujan demi pacarnya. Sungguh beruntung wanita itu, tak ku sangka pengorbanan itu akan dibalas pengkhianatan dan menimbulkan mendung disana untuk beberapa lama.
Kembali ku lirik jam tangan ku, pukul 13.30.
Masih banyak mahasiswa yang menunggu jemputan, termasuk aku yang masih setia menunggu ayahku. Aku benci menunggu!
Ku putuskan untuk menyelesaikan game di hp demi membunuh waktu.
Entah aku yang terlalu asyik dengan hp atau dia yang datang tak di undang, tiba-tiba Ade sudah berdiri di hadapanku dan menyodorkan helm merahnya kepadaku.
“Mau hujan, ntar kamu kesorean pulang. Lagian anak-anak yang lain udah pulang.”
Saat itu juga aku sadar jika tinggal aku sendiri yang masih setia menunggu disini. Ku lihat Pak Satpam yang biasa patroli tengah mengobrol dengan seseorang. Ku lirik lagi jam di tanganku. 14.45. sudah satu jam lebih aku menunggu disni.
Ku biarkan tangan itu tetap terulur sampai akhirnya kuputuskan untuk menerima tawarannya.
Aku tahu, senyum kemenangan mengembang di wajahnya saat aku naik ke motornya. Tapi aku pura-pura tidak melihat. Agar tidak membuat kedua orang tuaku khawatir, kuputuskan untuk memberitahu ayahku jika aku pulang bersama teman.
Sepanjang perjalanan aku hanya diam sampai Ade menyalakan rokoknya.
“Kamu merokok?” tanyaku sambil mengipas asapnya yang mampir ke hidungku dengan telapak tangan.
“Kenapa? Kamu nggak suka?” tanyanya.
“Nggak, aku nggak suka dengan asapnya.” Jawabku di iringi batuk.
Dengan gerakan cepat Ade membuang rokoknya.
“Kok di buang?” tanyaku heran.
“Karena kamu nggak suka.” Jawabnya santai.
“Tapi bukan berarti aku minta kamu ngebuangnya. Itu sama aja kamu buang uang/” kataku kesal.
“Nggak masalah, selama itu buat kamu nyaman sama sama aku.”
Jawaban yang benar-benar tak ku duga, dan tanpa sengaja mata kami bertemu di kaca spion. Sungguh aku tak pernah suka menatap mata itu, mata yang mengingatkanku pada seseorang.
Aku rindu padanya, aku ingin bertemu Fathur, sudah lama aku tak mendengar kabarnya.
“Pegangan Nai, ntar kamu jatuh. Kalau perlu peluk yang kenceng.” Perintah Ade saat menambah kecepatan.
Aku hanya diam tak menanggapi.
“Nai, jatuh nggak tanggung ya.” Katanya memperingatkan.
“Nggak apa-apa, yang jatuh juga aku bukan kamu.” Jawabku cuek.
“Kalau jatuh kan bisa gawat. Pegangan aja!” katanya lagi.
“Lebih baik aku jatuh daripada harus meluk kamu!”
“Kok gitu, kenapa?” tanyanya bingung.
“Bukan MUHRIM!” jawabku tegas.
Dari spion bisa ku lihat Ade berusaha menahan tawa mendengar jawabanku.
Aku benci melihat ulahnya!
Kali ini Ade sengaja menambah kecepatan, membuatku nyaris kehilangan keseimbangan. Dengan cepat ku raih pegangan di jok belakang, istigfar keluar dari mulutku.
Ade menghentikan laju motornya saat melihat wajahku memucat.
“Kamu nggak apa-apa kan, Nai?” tanyanya cemas.
“Kalau nggak niat nganter aku, lebih baik nggak sama sekali. Aku bisa naik angkot!” kataku segera turun, tapi Ade dengan segera menarik pergelangan tanganku.
Ku pelototi tangannya, dan dengan cepat Ade menariknya kembali.
“Maaf…” sesalnya.
“Kalo kamu jemput aku dengan alasan ingin ku peluk lebih baik nggak usah! Aku bisa pulang sendiri!”
“Jangan Nai…!”
Oke-oke…. Aku janji nggak akan godain kamu lagi.”
Sebenarnya aku hanya menggertak, mana berani aku tinggal disini sendirian dengan cuaca mendung dan jalanan yang lengang. Tapi kalau Ade masih berani macam-macam, aku tak segan-segan untuk berdiam disini menunggu ayah.
Aku pun kembali duduk di boncengan dengan muka ditekuk, sengaja ku palingkan wajah ke deretan rumah-rumah di pinggir jalan.
“Nai, apa kamu nggak bisa buka hati kamu untuk aku?” tanyanya memecah kesunyian yang cukup panjang.
“Emang harus dengan pacaran?” tanyaku balik.
“”Iya donk...”
“De, pacaran nggak menjamin sebuah hubungan bisa berlangsung lama.mending kita temenan, nggak akan ada kata putus. Dan kamu bisa tetep bebas cari cewek lain tanpa harus takut ketahuan aku. Banyak cewek di luar sana yang bisa kamu kejer.” Jelas ku mencoba memberi pilihan.
“Aku mau kamu.”
“Kenapa? Banyak kok cewek yang lebih cantik dari aku, lebih pinter, lebih tinggi, lebih manis, lebih seksi, lebih baik… lebih…”
“Aku nggak mau!”
“Hmmm… gimana kalau aku jodohin dengan temen aku, banyak cowok yang naksir sama dia, kamu pasti suka. Dia…”
“Aku nggak mau, dan aku nggak butuh! Aku maunya kamu, bukan cewek lain!!” kali ini nada bicara Ade terdengar meninggi, membuatku terdiam sesaat.
“Kenapa? Kenapa kamu milih aku? Apa alasan kamu suka sama aku?” tanyaku akhirnya setelah sempat terdiam beberapa saat.
“Emang cinta harus diungakapin dengan kata-kata? Aku rasa nggak perlu!” jawabnya dingin.
“”Sejak kapan kamu mulai suka sama aku, sedangkan aku sendiri baru kenal sama kamu.” Kataku jujur.
“Sejak pertama kali aku liat kamu, dan ku rasa kamu nggak sadar kalau ku perhatiin selama ini. Aku sendiri nggak tahu kenapa, pertama kali aku liat kamu, aku suka. Jangan Tanya kenapa, karena sulit bagiku untuk menjelaskannya.”
Pernyataan Ade membuatku tertegun, jawaban yang meleset dari perkiraanku. Selama ini setiap aku memberikan pertanyaan itu ke semua laki-laki yang mendekatiku. Hampir semua jawaban sama. “Kamu cantik, manis, baik, ramah….dll.” yang hampir semuanya menilai dari fisik dan kelebihanku. Tapi Ade?
“Mau sampai kapan kamu duduk manis dibelakang?” Tanya Ade membuyarkan lamunanku, dan saat itu juga aku sadar kalau sudah berada di depan rumah.
“Betah ya boncengan sama aku?” goda Ade kumat jayusnya.
“Makasih..” ucapku saat turun dari motor.
“Hanya itu?” Tanya Ade membuatku bingung.
“Salam perpisahannya mana, kiss bye gitu..” liriknya sambil tersenyum jahil, tapi berubah tawa saat melihat bola mataku membulat sempurna.
“Oke deh, aku pulang dulu ya…” pamitnya.
Aku hanya mengangguk, saat ku masuki pekarangan dan berbalik hendak menutup pagar, ku lihat Ade tetap beridri di tempat semula sambil tersenyum menatapku.
“Rinai…Rinai… kamu tuh lucu ya. Baru kali ini aku ketemu cewek kayak kamu.”
“Maksudnya?” tanyaku bingung.
“Oke deh Rinai sayang… aku pulang dulu ya. Nggak usah tunggu aku, makan duluan aja, nanti sakit. Aku pulang malem, jangan kangenin aku ya…” katanya sambil berlalu.
Semula aku tak mengerti apa maksud perkataannya, tapi saat sadar, menyesal aku tidak merelakan speatuku mampir ke kepalanya.
Cowok aneh!
♥
Sore ini kuhabiskan waktu ber jam-jam bersama Ade, bukan karena aku menerimanya, tetapi aku tidak tega menolak permintaannya yang kebingungan mencari kado untuk adik perempuannya.
“Kamu kan cewek, pasti kamu lebih tahu kesukaan cewek dari pada aku. Please, Nai…. Bantu aku cari kado buat adik aku.” Pintanya lewat sms tadi malam.
Mau tidak mau aku terpaksa menemaninya, hitung-hitung balas budi karena udah di anter pulang kemarin.
“Kamu mau cari yang gimana sih, De?” tanyaku kesal saat Ade menolak semua saran ku untuk kado yang akan diberikan ke adiknya.
“yang gimana ya?” Tanya de balik bertanya.
“De, sudah dua jam lebih kita muter-muter disini, masak nggak ada satupun barang yang menarik perhatian kamu buat di kasih ke adikmu?”
“Hmm… iya juga sih. Ya udah deh, kita balik ke toko yang pertama aja.” Kata Ade.
Aku melongo parah saat mendengar jawaban itu, dan semakin kesal saat ku lihat Ade memilih boneka beruang warna biru yang sudah kusarankan untuknya dari pertama datang kesini.
“Kenapa nggak dari tadi beli yang itu, De? Udah muter-muter segini lama, akhirnya kamu beli di toko pertama yang kita datangi.” Kataku geram.
Ade Cuma nyengir mendengar gerutuanku.
“makan yuk!” tawarnya.
“udah kenyang!” jawabku ketus.
“Serius? Udah jam makan siang nih. Makan dulu yuk…!” pintanya.
“Aku udah kenyang, tadi sebelum pergi udah makan dirumah.” Jawabku jujur.
“Tapi aku laper… temenin aku makan ya?” pinta Ade lagi sambil melirik perutnya.
Tak tega juga melihatnya yang kelaparan. Ku hembuskan nafas berat dan akhirnya mengangguk.
Ade tersenyum sumringah dan segera menyeret kakinya ke kedai makanan.
“Kamu nggak makan, Nai?” Tanya Ade saat melihatku hanya memesan minuman.
“Aku kan sudah bilang, aku udah kenyang.”
Ade hanya mengangguk dan segera menyantap makanannya.
Aku merasa bersalah demi melihat Ade yang makan begitu lahap, pasti dari tadi ade juga menahan lapar demi mencari kado buat adiknya.
Tak berapa lama kemudian Ade segera menyudahi makannya.
“Mau pulang sekarang”
Mendengar pernyataan itu, aku mengangguk cepat.
“Giliran di ajak pulang seneng banget, coba kalo di ajak jalan, susahnya minta ampun.” Sungut Ade sambil mengeluarkan dompet untuk membayar makanan kami.
Aku hanya tersenyum simpul mendengar gerutuan Ade.
Tanpa sengaja Ade menjatuhkan secarik kertas dan segera kupungut, meski tak jelas, tapi aku tahu itu surat keterangan dari salah satu instansi Rumah Sakit. Dengan segera ku serahkan surat itu ke Ade.
♥
Aku terus berusaha mencari informasi tentang Fathur, sesekali ku buka fb Fathur untuk mengetahui keberadaannya. Tapi usahaku tak pernah membuahkan hasil, tak ada tanda-tanda bahwa Fathur aktif di jejaring ini.
“Kamu kemana sih, Fathur…? Please…sekali aja aku pengen ketemu kamu.” Bisik ku.
“Hei…. Kamu, Rinai kan?” Tanya seseorang saat berpapasan dengan ku di sebuah restoran.
Aku mengernyitkan kening berusaha mengingat siapa gerangan laki-laki yang berdiri di hadapanku.
“Siapa ya?” Tanya ku saat merasa tak mampu mengenali sosok itu.
“kenalin, Gue Tyo. Kalau ingatan kamu kuat, kamu pasti ingat pernah ngeliat aku di suatu tempat” Kata cowok itu ramah.
Aku hanya bengong tak mengerti.
“Duduk Nai.” Ajak cowok itu, dan seperti terhipnotis, aku menurut saja.
“Mungkin kamu bertanya-tanya tentang kehadiranku yang tiba-tiba, tapi ku rasa ini yang kamu inginkan.”
aku makin bingung saat mendengar perkataan cowok itu.
“Rinai, aku tahu kamu sedang mencari seseorang.” Kata Tyo tiba-tiba.
“Hmm…?” Tanyaku tak mengerti.
“Kamu mencari Fathur kan? Kamu tak perlu mencari Fathur, karena Fathur ada di dirinya.” Kata Tyo menunjuk kearah seseorang yang berada di belakangku.
Aku segera menoleh dan semakin bingung saat mendapati Ade yang tengah berdiri di hadapanku, begitu pun dengan Ade, terlihat jelas di mata ku kalau Ade kaget dan jadi serba salah.
“Tepat di mata dan jantungnya.” Sambung Tyo sambil menyerahkan secarik kertas kepadaku.
Aku segera mengenali surat itu, surat yang sama saat terjatuh dari dompet Ade.
Surat keterangan dari dokter, dengan perasaan tak menentu aku memberanikan diri untuk membacanya.
Telah di terima donor mata dan jantung dari Fathur Al-Fasya kepada Ade Saputra.
Tangan ku bergetar saat membaca surat itu, waktu seolah berhenti berdetik.
Satu persatu butiran air mata mengalir di kedua pipiku, “Kenapa aku harus bertemu Fathur dengan cara ini?” dengan cepat aku meninggalkan ruangan ini, meski dengan langkah gemetar, duniaku seolah berhenti. Sebelum keluar, aku sempat berpapasan dengan mata itu, sulit bagi ku untuk menangkap arti tatapan itu. Tapi aku yakin itu tatapan terluka.
♥
Sore itu rumah Ade di kejutkan oleh teriakan histeris ibunya, “Nak… kamu kenapa?” ratap ibunya dengan berucucuran air mata saat melihat putranya jatuh kelantai.
Ade merasa pandangannya mengabur, dan jantungnya berdetak lebih cepat, hingga ia merasa sakit. Semuanya panik dan segera melarikan tubuh Ade ke Rumah Sakit, dan betapa terkejutnya mereka saat dokter memvonis bahwa Ade menderita penyakit jantung yang menyebabkan mata dan jantungnya tak dapat berfungsi dengan sempurna, dan mengharuskannya untuk segera di operasi.
Keluarganya bingung bukan main saat mengetahui nasib malang putranya, dan mereka semakin dirundung kesedihan saat mereka di haruskan bersabar menunggu waktu operasi sampai ada yang mau mendonorkan jantung dan matanya kepada Ade.
Seorang pria yang kebetulan tengah dirawat di kamar sebelah Ade dirawat mendengar kabar itu dan memaksa temannya untuk memberikan mata dan jantungnya jika nyawanya tak tertolong lagi, tentu saja temannya tak bersedia dan meyakinkan bahwa ia akan selamat dan dapat kembali bertemu dengan gadis yang dirindukannya selama ini.
“Aku yakin bisa bertemu dengannya, meski aku udah nggak ada.” Jawab laki-laki itu yang membuat temannya meringis tertahan.
Keesokan paginya, laki-laki itu meminta izin pada suster untuk membesuk teman di samping ruangannya, dengan bantuan kursi roda, laki-laki itu di antar suster keruangan Ade.
Ade yang kebetulan terjaga, kaget saat mendengar suara pintu dibuka.
“Siapa?” Tanya Ade cemas tanpa mampu melihat jelas siapa yang masuk kekamarnya. Hanya bayang-bayang samar yang mampu ditangkapnya.
“Saya suster Nisa, ada teman yang ingin membesuk Anda.” Jawab suster itu ramah dan mendorong Fathur untuk medekat ke sisi Ade.
Suster Nisa yang kebetulan sedang banyak tugas, terpaksa meninggalkan kedua pasien dan memperingatkan mereka untuk segera menekan bel jika terjadi sesuatu.
Laki-laki itu tersenyum kecut saat mendengar peringatan itu.
“Lo…”
“Aku Fathur, kamu?” jawab laki-laki yang berada di kursi roda.
“Ade.” Jawab Ade singkat.
“Sudah lama mengidap penyakit ini?” tanpa tedeng aling-aling, Fathur langsung bertanya, membuat Ade sedikit tak nyaman.
“Semua keluarga sudah tahu kalau kamu mengidap penyakit seserius ini?” Tanya Fathur lagi.
“Gue rasa mereka nggak perlu tahu, gue nggak mau nyusahin mereka. Tapi kayaknya usaha gue sia-sia, toh akhirnya mereka tahu dengan sendirinya.” Jawab Ade dengan mimik lucu.
Father tertawa kecil mendengar jawaban Ade.
“Nggak semua masalah harus ditanggung sendiri, De. Ada saatnya kita harus berbagi dan membiarkan orang lain yang perduli pada kita untuk melakukan yang terbaik buat kita.”
“Tapi itu akan jadi beban buat mereka.” Sergah Ade tak mau kalah.
“De, justru dengan cara seperti ini, mereka akan merasa semakin bersalah karena mengira mereka tak memberi perhatian lebih kepada anaknya. Mereka akan merasa bersalah karena sudah teledor dalam mengurus anak-anaknya.”
“Lo sendiri, kenapa bisa disini.?” Tanya Ade mencoba mengalihkan topik pembicaraan, karena dia tidak pernah suka jika harus membahas sesuatu tentang keluarga yang dicintainya.
Ade mendengar tarikan nafas berat dari lawan bicaranya, meski tak bisa melihat dengan jelas, tapi Ade tahu bahwa Fathur telah berpindah dari posisinya semula menuju sisi kanannya.
“Panjang…” jawab Fathur singkat.
Baru saja Ade mau membuka mulut, Fathur telah mendahului.
“Aku disini karena kecerobohanku, dan kukira ini memang takdirku.”
“maksudnya?” Tanya Ade bingung.
“Ya, karena kecerobohan ku, aku nggak waspada dengan mobil yang melaju kencang dari arah berlawanan dan menyebabkan aku disini. Bisa dibilang takdir karena aku berada disini di saat ada seseorang yang butuh pertolonganku.”
“Siapa?”
“tak perlu ku beri tahu.”
Ade keki mendengar jawaban itu.
“Tak ada yang membesuk kamu?” Tanya Ade ketularan Fathur untuk menyapa dengan kata “Aku” dan “kamu”.
“Ada, tapi aku memaksa mereka pergi untuk membiarkanku menikmati saat-saat kesendirianku.”
“Kenapa? Kamu tidak ingin ditemani seseorang yang mampu menghiburmu disaat-saat seperti ini?”
Mendengar pertanyaan Ade, Fathur tertawa, membuat Ade sempat berfikir bahwa Fathur gila!
“gadis itu, aku terlalu pengecut untuk mengakuinya. Mengakui perasaan yang diam-diam kusimpan tanpa mampu ku ungkapkan, sampai dia menjauh dariku dan aku pun sengaja menghindar darinya.”
“Kenapa? Bukankah jika kau mencintainya, tak seharusnya kau biarkan dia pergi dan kau sendiri menghindarinya? Belum tentu dia tak memiliki perasaan yang sama seperti yang kau rasakan.” Protes Ade sedikit emosi.
“Justru karena aku tahu bahwa dia mencintaiku, maka aku memilih menghindar. Aku takut akan menyaktinya, karena terlalu sering aku berusaha berpaling darinya.”
Ade sudah kembali ingin protes saat mendengar jawaban Fathur, tetapi segera di dahului Fathur.
“Aku melakukan itu dengan maksud ingin meyakinkan hatiku bahwa aku mencintainya, tetapi semakin aku berpaling, semakin aku ingin kembali padanya, dan yang membuatku takjub adalah kesabarannya, meski aku tahu dia terluka, kecewa atas perlakuanku, dia tetap tersenyum menyambut kedatanganku yang membuat asa baginya.
Meski aku pernah dibuatnya salah tingkah dengan sikap dingin yang kuterima darinya. Saat itu aku merasa dia akan membenciku untuk selamanya, tetapi perkiraanku salah saat kudapati ia masih memberi senyum yang sama di hari berikutnya. Sungguh aku tak pernah tahu apa yang ada di fikirannya, sifat yang terlalu sulit ku tebak.”
Kali ini Ade yang tersenyum mendengar perkataan Ade, entah kenapa dia menyukai cara gadis itu mengahadapi Fathur.
“Sudah sepatutnya kau mendapat perlakuan seperti itu, tak seharusnya kau menyakitinya dengan cara seperti itu.”
“Aku tahu, makanya aku ingin bisa bertemu kembali dengannya, terakhir ku dengar dia telah sibuk dengan kuliahnya, aku tak ingin mengganggunya.”
“Kau terlalu pengecut, kenapa kau terus memberi asa padanya sementara kau sendiri tak berani bertanggungjawab dengan perbuatanmu.” Sindir Ade sedikit marah.
“Karena aku sadar, ia akan lebih bahagia tanpaku.”
Ade semakin dibuat bingung dengan jawaban Fathur, bagaimana mungkin dia bisa mengatakan hal itu, sementara dia sendiri tersiksa dengan perasaan itu, dan tentunya gadis itu tak kalah terlukanya melihat ulah Fathur.
Percakapan mereka berlanjut dan Ade semakin merasa mengenal gadis itu melalui cerita-cerita Fathur, cerita itu baru berakhir ketika Ade berhasil mendapat jantung dan mata baru, tak lagi Ade temui sosok itu, meski ia bertanya dengan semua orang yang ada di RS.
Sampai Ade bertemu dengan Tyo, teman dekat fathur, dua minggu lalu.
♥
Rinai, maaf jika kau harus menemukanku dengan cara ini.
Tapi sungguh aku percaya padanya, ku titipkan milikku untuknya.
Maaf karena selama ini aku menjadi pengecut yang tak pernah bisa mengungkapkan perasaanku yang sesungguhnya, tapi sungguh Rinai.
Aku mencintaimu dengan tulus, sejak pertama melihatmu, aku tahu kau berbeda.
Teteaplah menjadi Serinai Embun yang ku kenal.
Rinai di mataku adalah sosok yang tegar, ramah dan periang.
Tetap tersenyum meski dibalut kesulitan.
Sekali lagi maafkan aku, Rinai….
Sungguh, aku tak bermaksud membuatmu menanti dengan ketidak pastian.
aku ingin
aku ingin mencintaimu dengan sederhana :
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya debu
aku ingin mencintaimu dengan sederhana :
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.
Aku menghela nafas berat, lama ku tatap tulisan itu. Surat terakhir yang di berikan Fathur untukku, bersama puisi karya Sapardi Djoko Darmono.
“Sungguh, jika aku tahu bahwa gadis itu adalah kau, dan yang memberi donor itu adalah dia, semuanya tidak akan berakhir begini, tak akan ku terima donor itu dan tak kan ku laksanakan pencangkokan itu.” Sesalnya yang sedari tadi berdiri di sampingku.
Aku hanya tersenyum kecut, menatap nanar pusara yang ada di hadapanku.
Setelah lama terdiam, aku pun berdiri dan menatap mata itu, mata yang selalu kurindukan ternyata ada disana.
Detak jantung itu, detak jantungnya.
Senyum terkembang di wajahku, lebih mirip seringai.
“Jangan tatap aku seperti itu.” Pintanya.
“Kenapa? Itu matanya, dan jantung itu…”
“Mata dan jantung ini boleh miliknya, tapi hati ini tetap hatiku. Utuh milikku!
Dan disini, telah ku simpan dan akan tetap kusimpan sebuah nama, Serinai Embun. Gadis yang akan selalu kunanti dan ku harapkan cintanya.
Jangan pernah berfikir aku mencintaimu karena tatapan dan detak ini, tapi aku mencintaimu karena hati ini, hati yang utuh milikku, bukan miliknya.
Jangan tatap aku dengan tatapan itu, karena aku bukan dia. Aku adalah aku.
Ku tunggu saat kau bisa membuka hatimu untukku, dan melihatku utuh sebagai Ade Saputra, tanpa Fathur Al-Fasya di dalamnya.” Kata Ade menutup pembicaraan dan mengajakku meninggalkan pusara itu.
Aku menengadahkan wajah ke langit, berusaha mencari sosok Fathur disana, “Kau kekasihku, tapi bukan pacarku.” Bisikku terisak.
THE END
Tidak ada komentar:
Posting Komentar